Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

Hanun dan Cermin di Dinding

            Wanita paruh baya itu melihat Hanun, gadis semata wayangnya yang sedari tadi berdiri kaku di hadapan cermin yang menggantung santai di dinding. Hanun seolah sedang berinteraksi dengan cermin tersebut. Tatapan matanya tajam, raut mukanya memperlihatkan ketegangan. Dia sangat prihatin dengan apa yang sedang terjadi dengan gadisnya.
            "Inikah diriku?" tanya Hanun pada cermin yang terlihat agak sedikit kusam dengan  bercak coklat di pinggir kiri bagian bawahnya.
            "Atau kau mengelabui bayanganku? Kau memanipulasinya?" tanyanya lagi kali ini dengan nada agak sedikit geram, sorot matanya bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
            "Cermin sialan! Kenapa kau menampakan bayangan yang bukan diriku dihadapanku! Beraninya!" ucapnya semakin geram.
            Dia seolah dibuat frustasi dengan bayangan yang ada di hadapannya itu. Dia tak yakin dengan sosok bayangan yang ada di dalam cermin tersebut. Dirinya kah?
            "Tak mungkin aku, bukan? Lihat! Wajahnya layu, sorot matanya sayu. Tak ada sedikit semangat yang terpancar dari wajahnya. Muram. Sendu. Itu pasti bukan diriku kan, cermin!?" Hanun kembali bertanya untuk kesekian kalinya, kali ini dengan nada yang berapi-api, dan agak sedikit jijik.
            "Tak ada gunanya aku bertanya! Cermin sialan! Lancang sekali memperlihatkan bayangan lain selain diriku!" Lirih Hanun. Dia menyerah untuk bertanya. Kepalanya tertunduk dan pikirannya tenggelam dalam risau dan kembali hanyut dalam kesedihannya. Seketika...
            "Aku tidak memanipulasinya. Aku tidak mengelabuimu. Tataplah aku sekali lagi dan lihat! Bayangan sendu, layu, dan sayu itu memang dirimu! Dirimu, Hanun. Lihatlah dengan seksama. Kau tak bergairah. Kau bagaikan bunga yang terlalu lama diterpa terik mentari, layu dan hampir mati. Menyedihkan. Rambutmu lusuh dan kusam, kulitmu mengerikan. Tak menarik sama sekali, bahkan mungkin kau menjijikan ntuk sekedar dilihat," jawab sang cermin
            "Kau menipuku! Bayangan itu bukan diriku!" bantahnya.
            "Aku tak pernah menipu siapapun yang berdiri dihadapanku. Kau yang terlalu angkuh untuk mengakui betapa terpuruknya dirimu sekarang. Tak inginkah kau bangkit? Dan kembali ke sosok dirimu seperti dahulu? Kini kau benar benar sangat terlihat menyedihkan, Hanun,"
            Benar. Setahun sudah Hanun membiarkan dirinya jatuh dalam keterpurukan. Setelah dia harus dihadapi dengan kenyataan tentang calon pendamping hidupnya telah pergi jauh meninggalkannya. Jauh dan tak kembali.
            Sore itu, gadis semata wayangnya sedang menanti Bagas datang untuk membawakanya buket mawar merah favoritenya dan sepasang cincin platina yang berukir nama keduanya yang rencananya akan mereka kenakan di jari manis mereka saat pernikahan. Namun naas, sore itu hujan, dan jalanan sangat licin. Tiba-tiba Bagas dikejutkan dengan sosok anak kecil yang berlari menyebrangi jalan yang dia lalui, lelaki itu membanting setir mencoba menghindar. Namun sial, dia tak mampu mengendalikan laju mobilnya yang saat itu melaju dengan kecepatan 100km/jam, mobilnya oleng hingga akhirnya menabrak pembatas jalan dan membuat dirinya terpental dan terguling bersama dengan mobil yang dia kendarai saat itu. Hancur lebur. Dan nyawanya hilang seketika di tempat kejadian.
            Di teras rumahnya, Hanun masih setia menanti. Hingga senja telah berpulang berganti petang, namun Bagas, lelaki yang dinantinya tak kunjung datang. Hanun berkali-kali mencoba menghubunginya, namun berkali kali juga selalu tersambung dengan suara ramah dari operator yang memintanya kembali menghubungi nomer tersebut beberapa saat lagi. Rasa cemas terus menari-nari dalam benaknya. Dia mencoba menghubungi kediaman Bagas namun asisten rumah tangga keluarga lelakinya itu bilang Bagas belum pulang sejak sore tadi. Namun selang waktu yang tak lama, akhirnya kehawatirannya terjawab sudah dengan informasi yang diberikan calon mertuanya tentang keberadaan dan keadaan Bagas saat ini. Hanun seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya. Hanun berteriak memecah keheningan malam, tangisnya menggelegar dan mengoyak petang.
             Dengan tergopoh wanita paruh baya itu berlari menuju Hanun yang meracau tak menentu saat itu, dia bertanya namun tak ada jawaban darinya. Wanita itu melihat layar handphone anaknya yang masih tersambung dengan sang calon mertua. Dia segera mengambil alih dari genggaman gadisnya dan terjawab sudah akhirya tentang apa yang membuat gadisnya histeris sepert ini. Wanita paruh baya itu memeluk tubuh mungil Hanun erat mencoba menenangkan dan meredakan tangisannya.
            Esok hari seharusnya menjadi hari yang penuh diselimuti kebahagiaan. Pasalnya, hari itu adalah hari dimana Hanun harus duduk di samping Bagas yang akan mengucapkan Ijab Qabul dan memasangkan cincin platina yang berukir nama keduanya di jari manisnya di depan khalayak. Dan hari itu, Hanun dan Bagas sah menjadi suami-isteri. Namun kabut dukalah yang menaungi hari itu. Isak tangis dan serangkaian doa menggema di pemakaman umum dimana Bagas di kebumikan. Tangis gadis itu semakin tumpah ruah kala jasad Bagas saat itu memasuki tempat peristirahatan terakhirnya. Dia tak mampu membendung kesedihan dan kesakitan yang sangat mendera dirinya. Tubuhnya lemah dan terjatuh.
            Semenjak saat itulah Hanun membiarkan dirinya terpuruk dan terus terpuruk hingga terjadi perdebatan sengit antara dirinya dengan cermin yang menggantung  di dinding kamarnya. Wanita paruh baya yang sedari tadi terus memandang sedih Hanun tak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengeluarkan gadisnya dalam keterpurukan. Berbagai upaya telah dilalui namun selalu nihil.
            “Kau tahu, betapa menyedihkan dan menjijikannya dirimu saat ini? Tataplah aku, lihatlah bayangan yang ada didalamnya. Bayangan layu dirimu yang semakin terpuruk dalam kesedihan dan seolah enggan berusaha untuk bebas darinya. Itu dirimu, itu adalah bayangan dirimu yang menyedihkan” saut sang cermin.
            Hanun kembali menundukan kepalanya beberapa saat kemudian kembali menatap cermin yang ada dihadapannya.
            “Benarkah itu? Benarkah ini diriku yang menyedihkan? Layu, sayu, tak bergairah, tak menarik. Benarkah? Bukan! Ini bukan diriku! Bukan diriku! Cermin sialan!” teriak Hanun sambil melemparkan bantal kearah cermin tersebut bertubi-tubi.
            “Bangkitlah. Tataplah masa depanmu. Kembaliah menjadi gadis seperti dulu. Kau gadis cantik, penuh pesona dan mempunyai gairah asa yang tinggi. Sedangkan lihat dirimu yang sekarang? Jika kau terus seperti ini, diapun tak akan pernah tenang disana. Bangkitlah!”
            Teriakannya pecah, air matanya merembes deras membasahi pipinya yang kian hari semakin tirus. Wanita paruh baya yang sedari tadi menatapnya dari pintu segera berlari kearahnya dan memeluk erat tubuh mungil gadisnya. Tersirat raut kepanikan dari wajah wanita paruh baya itu. Dia terus memeluknya erat dan membelai rambut kusam Hanun berusaha agar tangisnya reda.
            “Maafkan aku, maafkan aku, Ibu. Maafkan aku. Dia pasti tak tenang disana karena diriku yang terus menerus terpuruk. Bantu aku, Bu. Bantu aku beranjak dari kesedihan ini dan menapaki masa depan ku. Aku ingin kembali menjadi diriku seperti dulu, bu. Aku tak ingin membuatnya khawatir dengan diriku disana. Aku ingin dia tenang disana, Bu. Bantu aku.” Rintih Hanun dalam pelukan Ibunya. Senyum mengembang dari kedua sudut bibir wanita paruh baya ini dia merasa sangat lega dan bahagia bahwa akhirnya gadis semata wayangnya ingin terlepas dari keterpurukan dan bangkit dari semua ini. Dalam hatinya tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukur. Keduanya semakin mengeeratkan pelukan dan hanyut dalam suasana haru yang saat itu menyelimuti keinginan Hanun yang ingin terlepas dari belenggu keterpurukannya.

Sabtu, 22 September 2012

Writings Blocks and Essay

Hari Rabu kemarin gue terima materi writing III dari dosen gue Pak Usep seputar essay. Lumayan lah gue mau berbagi sedikit dengan para visitors lain. Mungkin sebagian ada yang udah mengetahui seputar essaysebagian masih ada yang buta tentang essay.Termasuk gue yang sebenarnya masih buta banget dengan hal tulis menulis. Untuk itu disini gue mau sedikit berbagi tentang essay dan menulis.

ESSAY
Essay sendiri sebenarnya berasal dari bahasa French, Essayer (to try/to attempt), atau “mencoba” atau “usaha”. Pertama dikenal pada tahun 1553. Essay merupakan tulisan berupa sudut pandang seseorang mengenai suatu hal. Definisi umum dari essay sendiri adalah merupakan sepenggal tulisan yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Penulis essay sendiri disebut essais. Essais pertama berasal dari Prancis, Michel de Montaigne (1572) dan dari inggris ialah Francis Bacon. Michel de Montaigne menulis essai pertama kali berjudul essais yang kemudian diterbitkan dalam 2 volume pada tahun 1580. Dan karya essai dari Francois Bacon diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1597, 1612, 1625.

Essai memiliki beberapa elemen, diantaranya: kritik sastra, politik manifsto. Belajar argumen, pengamatan dari kehidupan sehari-hari, rekoleksi, dan refleksi dar si penulis. Di luar negeri, essai sudah diajarkan dalam dunia pendidikan sejak dini. Essai merupakan salah satu syarat untuk bisa menempuh tingkat berikutnya dalam jenjang pendidikan.

Kinds of Essai:
1.      Narrative essay: tells a story, usually from one person’s viewpoint. (Menceritakan sebuah cerita,biasanya dari sudut pandang satu orang.)

2.      Descriptive essay: describes in detail characteristic and traits. (Menjelaskan secara rinci karakteristik dan sifat.)

3.      Expositoryessay: simpl essays that explain something with facts, as opposed to oppinion. (Menjelaskan tentang sesuatu dengan fakta, sebagai lawan pendapat.)

4.      Persuasive essay: to convince readers to embrace the idea or point of view. (Meyakinkan pembaca untuk merangkul ide atau sudut pandang.)

Menulis
Disini tentang menulis saya hanya ingin memaparkan sedikit tentang problem-problem seseorang ketika menulis dan solusinya.

Problemsin writing (Writers blocks):
1.      Tidak punya ide sama sekali.
Kita tidak tau ingin atau akan membuat tulisan tentang apa jika kita tidak memiliki ide sama sekali. Ini merupakan hal yang lumrah bagi siapa saja yang mungkin tidak terbiasa menulis lalu mendapatkan tugas mengarang entah itu tentang essay, puisi, ataupun cerita lainnya yang harus dikumpulkan saat itu juga.

2.      Terlalu banyak ide.
Terlalu banyak ide juga merupakan permasalahan yang sering terjadi saat menulis. Membuat penulis bingung dengan idenya sendiri.

3.      Terjebak di tengah atau kehabisan ide saat di tengah-tengah pembuatan karya tulis.

4.      Tidak percaya diri dengan tulisan yang dibuatnya.

Mengatasi Writers blocks:
1.      Brain Stroming
Merefreshingkan fikiran kita sejenak entah itu dengan mendengarkan music, sharing, dan lainnya.

2.      Free Writing
Menulis bebas. Tuliskan apapun yang ada di fikiran kalian untuk memancing kita menemukan ide saat dalam keadaan buntu. Biasanya dilakukan selama 15-20 menit.
3.      Looping

Sama seperti Free writing, namun kita menentukan sebuah topik terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan free writing.

4.      Clustery
(untuk clustery saya sendiri masih belum paham apa maksudnya, bila ada visitors yang mengerti tenang clustery bisa komentar dibawah tulisan ini.)

5.      Questioning
Dengan menyusun beberapa pertanyaan tentang hal yang akan kita tulis dan kemudian di jawab sendiri. Sehingga bisa menjadi sebuah kerangka penulisan pada akhirnya.

6.      Topics out. (Berdiskusi)

7.      Start everywhere
Memulai menulis dari bagian mana saja sesuai dengan ide yang muncul dalam fikiran.

8.      Lihat contoh tulisan-tulisan yang akan anda buat sebelumnya. Melihat contoh, bukan berarti mengkopi paste atau plagiat!

            Sekian sedikit ulasan dari saya tentang menulis dan tentang essay yang saya dapatkan saat mata kuliah writing III. Pembahasan disini tidak murni semua dari catatan saya tetapi saya jga mengambil beberapa penjelasan dari berbagai sumber lainnya. Mohon maaf bila ada yang salah atau kurang jelas dalam ulasan ini. Terimakasih J
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

Hanun dan Cermin di Dinding

            Wanita paruh baya itu melihat Hanun, gadis semata wayangnya yang sedari tadi berdiri kaku di hadapan cermin yang menggantung santai di dinding. Hanun seolah sedang berinteraksi dengan cermin tersebut. Tatapan matanya tajam, raut mukanya memperlihatkan ketegangan. Dia sangat prihatin dengan apa yang sedang terjadi dengan gadisnya.
            "Inikah diriku?" tanya Hanun pada cermin yang terlihat agak sedikit kusam dengan  bercak coklat di pinggir kiri bagian bawahnya.
            "Atau kau mengelabui bayanganku? Kau memanipulasinya?" tanyanya lagi kali ini dengan nada agak sedikit geram, sorot matanya bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
            "Cermin sialan! Kenapa kau menampakan bayangan yang bukan diriku dihadapanku! Beraninya!" ucapnya semakin geram.
            Dia seolah dibuat frustasi dengan bayangan yang ada di hadapannya itu. Dia tak yakin dengan sosok bayangan yang ada di dalam cermin tersebut. Dirinya kah?
            "Tak mungkin aku, bukan? Lihat! Wajahnya layu, sorot matanya sayu. Tak ada sedikit semangat yang terpancar dari wajahnya. Muram. Sendu. Itu pasti bukan diriku kan, cermin!?" Hanun kembali bertanya untuk kesekian kalinya, kali ini dengan nada yang berapi-api, dan agak sedikit jijik.
            "Tak ada gunanya aku bertanya! Cermin sialan! Lancang sekali memperlihatkan bayangan lain selain diriku!" Lirih Hanun. Dia menyerah untuk bertanya. Kepalanya tertunduk dan pikirannya tenggelam dalam risau dan kembali hanyut dalam kesedihannya. Seketika...
            "Aku tidak memanipulasinya. Aku tidak mengelabuimu. Tataplah aku sekali lagi dan lihat! Bayangan sendu, layu, dan sayu itu memang dirimu! Dirimu, Hanun. Lihatlah dengan seksama. Kau tak bergairah. Kau bagaikan bunga yang terlalu lama diterpa terik mentari, layu dan hampir mati. Menyedihkan. Rambutmu lusuh dan kusam, kulitmu mengerikan. Tak menarik sama sekali, bahkan mungkin kau menjijikan ntuk sekedar dilihat," jawab sang cermin
            "Kau menipuku! Bayangan itu bukan diriku!" bantahnya.
            "Aku tak pernah menipu siapapun yang berdiri dihadapanku. Kau yang terlalu angkuh untuk mengakui betapa terpuruknya dirimu sekarang. Tak inginkah kau bangkit? Dan kembali ke sosok dirimu seperti dahulu? Kini kau benar benar sangat terlihat menyedihkan, Hanun,"
            Benar. Setahun sudah Hanun membiarkan dirinya jatuh dalam keterpurukan. Setelah dia harus dihadapi dengan kenyataan tentang calon pendamping hidupnya telah pergi jauh meninggalkannya. Jauh dan tak kembali.
            Sore itu, gadis semata wayangnya sedang menanti Bagas datang untuk membawakanya buket mawar merah favoritenya dan sepasang cincin platina yang berukir nama keduanya yang rencananya akan mereka kenakan di jari manis mereka saat pernikahan. Namun naas, sore itu hujan, dan jalanan sangat licin. Tiba-tiba Bagas dikejutkan dengan sosok anak kecil yang berlari menyebrangi jalan yang dia lalui, lelaki itu membanting setir mencoba menghindar. Namun sial, dia tak mampu mengendalikan laju mobilnya yang saat itu melaju dengan kecepatan 100km/jam, mobilnya oleng hingga akhirnya menabrak pembatas jalan dan membuat dirinya terpental dan terguling bersama dengan mobil yang dia kendarai saat itu. Hancur lebur. Dan nyawanya hilang seketika di tempat kejadian.
            Di teras rumahnya, Hanun masih setia menanti. Hingga senja telah berpulang berganti petang, namun Bagas, lelaki yang dinantinya tak kunjung datang. Hanun berkali-kali mencoba menghubunginya, namun berkali kali juga selalu tersambung dengan suara ramah dari operator yang memintanya kembali menghubungi nomer tersebut beberapa saat lagi. Rasa cemas terus menari-nari dalam benaknya. Dia mencoba menghubungi kediaman Bagas namun asisten rumah tangga keluarga lelakinya itu bilang Bagas belum pulang sejak sore tadi. Namun selang waktu yang tak lama, akhirnya kehawatirannya terjawab sudah dengan informasi yang diberikan calon mertuanya tentang keberadaan dan keadaan Bagas saat ini. Hanun seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya. Hanun berteriak memecah keheningan malam, tangisnya menggelegar dan mengoyak petang.
             Dengan tergopoh wanita paruh baya itu berlari menuju Hanun yang meracau tak menentu saat itu, dia bertanya namun tak ada jawaban darinya. Wanita itu melihat layar handphone anaknya yang masih tersambung dengan sang calon mertua. Dia segera mengambil alih dari genggaman gadisnya dan terjawab sudah akhirya tentang apa yang membuat gadisnya histeris sepert ini. Wanita paruh baya itu memeluk tubuh mungil Hanun erat mencoba menenangkan dan meredakan tangisannya.
            Esok hari seharusnya menjadi hari yang penuh diselimuti kebahagiaan. Pasalnya, hari itu adalah hari dimana Hanun harus duduk di samping Bagas yang akan mengucapkan Ijab Qabul dan memasangkan cincin platina yang berukir nama keduanya di jari manisnya di depan khalayak. Dan hari itu, Hanun dan Bagas sah menjadi suami-isteri. Namun kabut dukalah yang menaungi hari itu. Isak tangis dan serangkaian doa menggema di pemakaman umum dimana Bagas di kebumikan. Tangis gadis itu semakin tumpah ruah kala jasad Bagas saat itu memasuki tempat peristirahatan terakhirnya. Dia tak mampu membendung kesedihan dan kesakitan yang sangat mendera dirinya. Tubuhnya lemah dan terjatuh.
            Semenjak saat itulah Hanun membiarkan dirinya terpuruk dan terus terpuruk hingga terjadi perdebatan sengit antara dirinya dengan cermin yang menggantung  di dinding kamarnya. Wanita paruh baya yang sedari tadi terus memandang sedih Hanun tak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengeluarkan gadisnya dalam keterpurukan. Berbagai upaya telah dilalui namun selalu nihil.
            “Kau tahu, betapa menyedihkan dan menjijikannya dirimu saat ini? Tataplah aku, lihatlah bayangan yang ada didalamnya. Bayangan layu dirimu yang semakin terpuruk dalam kesedihan dan seolah enggan berusaha untuk bebas darinya. Itu dirimu, itu adalah bayangan dirimu yang menyedihkan” saut sang cermin.
            Hanun kembali menundukan kepalanya beberapa saat kemudian kembali menatap cermin yang ada dihadapannya.
            “Benarkah itu? Benarkah ini diriku yang menyedihkan? Layu, sayu, tak bergairah, tak menarik. Benarkah? Bukan! Ini bukan diriku! Bukan diriku! Cermin sialan!” teriak Hanun sambil melemparkan bantal kearah cermin tersebut bertubi-tubi.
            “Bangkitlah. Tataplah masa depanmu. Kembaliah menjadi gadis seperti dulu. Kau gadis cantik, penuh pesona dan mempunyai gairah asa yang tinggi. Sedangkan lihat dirimu yang sekarang? Jika kau terus seperti ini, diapun tak akan pernah tenang disana. Bangkitlah!”
            Teriakannya pecah, air matanya merembes deras membasahi pipinya yang kian hari semakin tirus. Wanita paruh baya yang sedari tadi menatapnya dari pintu segera berlari kearahnya dan memeluk erat tubuh mungil gadisnya. Tersirat raut kepanikan dari wajah wanita paruh baya itu. Dia terus memeluknya erat dan membelai rambut kusam Hanun berusaha agar tangisnya reda.
            “Maafkan aku, maafkan aku, Ibu. Maafkan aku. Dia pasti tak tenang disana karena diriku yang terus menerus terpuruk. Bantu aku, Bu. Bantu aku beranjak dari kesedihan ini dan menapaki masa depan ku. Aku ingin kembali menjadi diriku seperti dulu, bu. Aku tak ingin membuatnya khawatir dengan diriku disana. Aku ingin dia tenang disana, Bu. Bantu aku.” Rintih Hanun dalam pelukan Ibunya. Senyum mengembang dari kedua sudut bibir wanita paruh baya ini dia merasa sangat lega dan bahagia bahwa akhirnya gadis semata wayangnya ingin terlepas dari keterpurukan dan bangkit dari semua ini. Dalam hatinya tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukur. Keduanya semakin mengeeratkan pelukan dan hanyut dalam suasana haru yang saat itu menyelimuti keinginan Hanun yang ingin terlepas dari belenggu keterpurukannya.

Sabtu, 22 September 2012

Writings Blocks and Essay

Hari Rabu kemarin gue terima materi writing III dari dosen gue Pak Usep seputar essay. Lumayan lah gue mau berbagi sedikit dengan para visitors lain. Mungkin sebagian ada yang udah mengetahui seputar essaysebagian masih ada yang buta tentang essay.Termasuk gue yang sebenarnya masih buta banget dengan hal tulis menulis. Untuk itu disini gue mau sedikit berbagi tentang essay dan menulis.

ESSAY
Essay sendiri sebenarnya berasal dari bahasa French, Essayer (to try/to attempt), atau “mencoba” atau “usaha”. Pertama dikenal pada tahun 1553. Essay merupakan tulisan berupa sudut pandang seseorang mengenai suatu hal. Definisi umum dari essay sendiri adalah merupakan sepenggal tulisan yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Penulis essay sendiri disebut essais. Essais pertama berasal dari Prancis, Michel de Montaigne (1572) dan dari inggris ialah Francis Bacon. Michel de Montaigne menulis essai pertama kali berjudul essais yang kemudian diterbitkan dalam 2 volume pada tahun 1580. Dan karya essai dari Francois Bacon diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1597, 1612, 1625.

Essai memiliki beberapa elemen, diantaranya: kritik sastra, politik manifsto. Belajar argumen, pengamatan dari kehidupan sehari-hari, rekoleksi, dan refleksi dar si penulis. Di luar negeri, essai sudah diajarkan dalam dunia pendidikan sejak dini. Essai merupakan salah satu syarat untuk bisa menempuh tingkat berikutnya dalam jenjang pendidikan.

Kinds of Essai:
1.      Narrative essay: tells a story, usually from one person’s viewpoint. (Menceritakan sebuah cerita,biasanya dari sudut pandang satu orang.)

2.      Descriptive essay: describes in detail characteristic and traits. (Menjelaskan secara rinci karakteristik dan sifat.)

3.      Expositoryessay: simpl essays that explain something with facts, as opposed to oppinion. (Menjelaskan tentang sesuatu dengan fakta, sebagai lawan pendapat.)

4.      Persuasive essay: to convince readers to embrace the idea or point of view. (Meyakinkan pembaca untuk merangkul ide atau sudut pandang.)

Menulis
Disini tentang menulis saya hanya ingin memaparkan sedikit tentang problem-problem seseorang ketika menulis dan solusinya.

Problemsin writing (Writers blocks):
1.      Tidak punya ide sama sekali.
Kita tidak tau ingin atau akan membuat tulisan tentang apa jika kita tidak memiliki ide sama sekali. Ini merupakan hal yang lumrah bagi siapa saja yang mungkin tidak terbiasa menulis lalu mendapatkan tugas mengarang entah itu tentang essay, puisi, ataupun cerita lainnya yang harus dikumpulkan saat itu juga.

2.      Terlalu banyak ide.
Terlalu banyak ide juga merupakan permasalahan yang sering terjadi saat menulis. Membuat penulis bingung dengan idenya sendiri.

3.      Terjebak di tengah atau kehabisan ide saat di tengah-tengah pembuatan karya tulis.

4.      Tidak percaya diri dengan tulisan yang dibuatnya.

Mengatasi Writers blocks:
1.      Brain Stroming
Merefreshingkan fikiran kita sejenak entah itu dengan mendengarkan music, sharing, dan lainnya.

2.      Free Writing
Menulis bebas. Tuliskan apapun yang ada di fikiran kalian untuk memancing kita menemukan ide saat dalam keadaan buntu. Biasanya dilakukan selama 15-20 menit.
3.      Looping

Sama seperti Free writing, namun kita menentukan sebuah topik terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan free writing.

4.      Clustery
(untuk clustery saya sendiri masih belum paham apa maksudnya, bila ada visitors yang mengerti tenang clustery bisa komentar dibawah tulisan ini.)

5.      Questioning
Dengan menyusun beberapa pertanyaan tentang hal yang akan kita tulis dan kemudian di jawab sendiri. Sehingga bisa menjadi sebuah kerangka penulisan pada akhirnya.

6.      Topics out. (Berdiskusi)

7.      Start everywhere
Memulai menulis dari bagian mana saja sesuai dengan ide yang muncul dalam fikiran.

8.      Lihat contoh tulisan-tulisan yang akan anda buat sebelumnya. Melihat contoh, bukan berarti mengkopi paste atau plagiat!

            Sekian sedikit ulasan dari saya tentang menulis dan tentang essay yang saya dapatkan saat mata kuliah writing III. Pembahasan disini tidak murni semua dari catatan saya tetapi saya jga mengambil beberapa penjelasan dari berbagai sumber lainnya. Mohon maaf bila ada yang salah atau kurang jelas dalam ulasan ini. Terimakasih J